Tolkien, Marx dan Mitos

Siapa yang tidak mengetahui The Hobbit, The Lord of the Rings, dan The Silmarillion karya apik John Ronald Reuel Tolkien, penulis kelahiran Bloemfontein, Afrika Selatan, 3 Januari 1892 ini?

Mungkin dirasa telat (bagi beberapa orang) untuk tema ini diulas,
Sesungguhnya ini hanya tulisan iseng hasil dari kilasan ide produk diskusi dengan seorang teman yang banyak tahu tentang Tolkien tempo hari lalu…

Lanjut…
Berawal dari buku yang ditulis pada 1930an dan diterbitkan pada tahun 1977 (empat tahun setelah Tolkien meninggal), dalam karya tersebut, diceritakan adanya sebuah makhluk yang bernama Hobbit.

Hobbit, pencerita sekaligus pemeran utama dalam The Hobbit maupun The Lord of the Rings, dideskripsikan sebagai keturunan manusia, (tidak dijelaskan bagaimana hubungan secara geneologis antara manusia dan hobbit) yang diciptakan oleh Iluvatar (Tuhan).

Mereka tinggal di sebuah wilayah yang jauh dari kekacauan politik dan pertarungan kekuasaan bangsa lain.
Sekilas penggambaran tersebut mirip seperti apa yang pernah seorang Karl Marx (tidak harus panjang lebar menjelaskan tentang bapak yang satu ini, hampir semua mahasiswa, sarjana ataupun aktivis ideologis pasti mengenal filsuf ini) cetuskan tentang nasib akhir dari dialektika masyarakat, sebuah manifestasi dari ideologi komunisme yaitu sebuah Diktator Proletariat.

Apabila para Hobbit adalah para komunis, lalu dimanakah posisi materialisme sebagai fundamen komunisme?
materialisme para Hobbit digambarkan dengan nilai/norma masyarakatnya yang hanya menerima kenyataan saat ini saja, mereka menganggap petualangan/keluar dari komunitas seperti yang dilakukan oleh Bilbao dan Frodo Baggins beserta empat temannya adalah perbuatan yang menyimpang.
Para Hobbit tidak pernah memberikan tempat untuk mimpi dan imajinasi, mereka sangat materealistik.

Diceritakan pula, mayoritas profesi para Hobbit ini adalah bertani,
Mungkin berbeda dengan konsep masyarakat komunisme Marxian yang muncul dari masyarakat industri, tetapi sejurus dengan komunisme Mao Tse Tung yang berpijak dari masyarakat agraris.

Lalu konsep Diktator Proletar muncul dari deskripsi tatanan sosial para Hobbit yang tidak mengenal kelas dan struktur sosial dalam masyarakatnya, semuanya rata para pekerja agraris, tidak ada raja ataupun pengusaha dalam tatanan sosial masyarakat Hobbit.

Sedikit meluas, dalam untaian cerita Tolkien, kehidupan masyarakat yang tergambarkan (tidak hanya Hobbit) sangat mengelu-elukan kearifan lokal dengan agraris sebagai pondasi keberlangsungan kehidupan.
Para makhluk protagonis sangat menjauhi bahkan cenderung membenci industrialisasi dengan dasar kapitalistik yang dilakukan oleh musuhnya dengan kegiatan membabat dan membakar hutan serta mengeruk bumi.
Hal ini sejalan dengan tipikal aktivis komunisme (yang tersisa) saat ini, mereka sangat alergi dengan yang namanya kapitalistik dan perusakan hutan.
Bahkan ada yang menyebutkan, bahwa eksistensi kaum komunisme saat ini dapat ditemukan di para aktivis feminisme, aktivis sastra dan budaya serta aktivis lingkungan hidup.

Dalam sejarah umat manusia, tidak pernah ada manifestasi yang berjalan stabil dari hipotesis komunisme, berabad-abad para penyusun negara berhaluan kiri berupaya menciptakan masyarakat utopia ini,
tetapi kenyataan berkata lain, justru komunisme makin jatuh terbenam dalam pertarungan ideologi umat manusia.

Begitu pula dengan para Hobbit yang tersisa, akhirnya mereka harus eksodus dari middle-earth karena desanya telah diporak porandakan.

Jadi, satu kesamaan akhir antara cerita JRR Tolkien dengan pemikiran Karl Marx, keduanya adalah MITOS,

Tetapi “Mitos bukanlah kebohongan.” ujar Tolkien dalam sebuah kesempatan wawancara ketika masih hidup.


Ayo Mulai Lagi…

Rumah sederhana ini ditinggalkan oleh pemiliknya. Sunyi, pengap, tanpa kehidupan!? Sudah hampir satu tahun …

Ratusan bahkan ribuan peristiwa serta opini menguap bebas dan hilang di atmosfir keseharian. Sudah hampir satu tahun …

Alunan perjalanan keseharian memaksa mengambil posisi tanpa serangan untuk kembali merekam dan menulis. Sudah hampir setahun…

Sulit memulai merekam kesemuanya dalam bingkai kata yang tersimpan dan tersusun di rumah sederhana ini. Sudah hampir setahun…

Memulai langkah tidak butuh banyak bicara, cukup beberapa patah kata untuk kembali…

Ayo mulai lagi…


Saya (harus) Pindah

Hari ini saya pindah ke wordpress setelah blogspot saya diracuni dengan berbagai widget adsense yang justru merepotkan?! sebuah konsekuensi menggunakan template bebas unduh?!


FPI vs AKBB, Ahmadiyah Melenggang Kangkung

1 Juni kemarin benar-benar jadi hari lahirnya Pancasila…

Kerusuhan dari kekerasan yang dilakukan oleh FPI terhadap anggota AKBB, benar-benar mencerminkan keluhuran dari Pancasila;
1. Sila Ketuhanan (Agama), berawal dari kasus Ahmadiyah sampai menjalar ke perseteruan Gus Dur & The Genk (saya tidak menyebut NU, karena mungkin saja tidak semua jemaat NU yang ingin membela Ahmadiyah) dengan FPI.
2. Sila Kemanusiaan, kekerasan terhadap sesama manusia (saudara muslim dalam kasus ini) atas nama Islam. Semua pihak mengklaim paling cinta Islam dan paling dekat dengan Tuhan dengan cara pukul, hajar dan serang.
3. Sila Persatuan, massa Gus Dur dan AKK-BB, sampai turun ke jalan, saling menurunkan laskar, sweeping para anggota FPI karena menurut mereka FPI tidak Indonesianis, karena tidak setuju dengan Ahmadiyah yang memiliki nabi terakhir setelah Muhammad SAW, begitu pula dengan FPI yang siap untuk mati demi mempertahankan pendapat.
4. Sila Kerakyatan, para “rakyat” atau umat yang menjadi laskar pemukulan dan laskar sweeping bergotong royong untuk saling pukul.
5. Sila Keadilan, adil buat Ahmadiyah, karena yang dibubarkan justru FPI, karena FPI itu kasar tetapi tidak punya nabi selain Muhammad SAW.
Pemerintah sepertinya sedang tapa geni…
mogok bicara… mogok bersikap…
Sejak kasus Ahmadiyah muncul ke permukaan, pemerintah kita yang bijak belum ada keputusan apa-apa, sampai akhirnya menjadi konflik horizontal antar ormas signifikan yang berpotensi membesar dan makin menyeramkan…

Ganjil?!
Sudah hampir 3 bulan sejak menghangatnya kasus Ahmadiyah…
Sudah tahunan pula kasus kekerasan yang dilakukan FPI di Indonesia…
dan setelah ada kejadian 1 Juni pun pemerintah tidak (atau belum) bereaksi apapun?

FPI bubar…
Bukan sebuah solusi jitu, akan mudah di negara ini untuk bikin ormas baru, apalagi atas nama agama…

Skeptis akan konspirasi jadi pelipur lara…
Mungkinkah pengalihan isyu kenaikan harga BBM?!
(Kenaikan BBM juga mengandung unsur kekerasan, bahkan melebihi kekerasan yang dilakukan oleh FPI?! karena tidak hanya 1-2 orang saja yang menjadi korbannya tetapi jutaan orang di Indonesia).

Atau mungkin saja keterlibatan Gus Dur dalam kasus ini menjadi pengalih untuk kasus friksi dalam tubuh PKB?!
(sepertinya terlalu konyol untuk menambal konflik dengan konflik yang konsekuensinya lebih besar?!).

Atau ada aktor intelektual yang menjalankan pion2 tersebut?
Siapa dan Tujuannya apa?
Memecah Islam sebagai raksasa tidur di Indonesia?

Atau isyu penghangat menuju Pemilu Nasional 2009?
(Ini juga alasan yang konyol?!)

Dari semuanya…
Hanya 1 yang jelas diuntungkan, yaitu Media… banyak bahan berita “panas” berbau kekerasan (yang notabene banyak peminatnya di Indonesia) dan bernuansa SARA yang siap dikonsumsi oleh para khalayak
(masyarakat penonton yang cenderung menelan bulat-bulat apa yang disuguhkan oleh media).

Dari pemberitaan di berbagai media pada hari ini…
Terlihat dominan pemberitaan vonis FPI lah yang bersalah karena tidak toleran dan terlalu keras…
Kesimpulannya, FPI bersalah atas kekerasan pada tanggal 1 juni dan Gus Dur & The Genk serta AKBB siap perang atas nama keadilan dan kebebasan beragama…
(sebuah tayangan komedi amis darah?!)

Lalu bagaimana dengan Ahmadiyah yang saat ini menjadi si polos lugu tidak bersalah?
Bagaimana dengan pemerintah yang seharusnya memiliki peran besar?
Bagaimana dengan Islam di Indonesia?

Semuanya nyaris tidak terlihat sama sekali, bahkan yang poin terakhir kondisinya sedang mengkhawatirkan…


(Otokritik) 100 Tahun Kebangkitan Nasional

Beberapa hari menjelang 20 mei, dimana 100 pada tahun lalu menurut penuturan orang tua & buku-buku sejarah yang lusuh adalah hari dimana lahirnya rasa kebangsaan pertama untuk negeri ini…

100 tahun kebangkitan nasional?
Bukan bermaksud meremehkan, tapi mungkin kalimat itu hanya bakal jadi sekedar jargon semata yang menghabiskan banyak anggaran kampanye pemerintah…
Bagi masyarakat negeri ini, kalimat itu tidak seampuh tagline dalam iklan-iklan penyedia layanan selular atau judul-judul sinetron setiap malam.

Apa yang terjadi setelah 100 tahun ini? Apabila anda berpikir bahwa negara ini tidak ada apa-apanya dibanding Amerika, maka anda salah besar! 100 tahun kebangkitan dan 63 tahun kemerdekaan RI ternyata Indonesia jauh lebih “demokrasi” dan lebih “kaya” dari Amerika sendiri. Apa buktinya?

Silahkan anda ajukan pertanyaan ke salah satu remaja ABG di salah satu pusat perbelanjaan tingkat atas pernahkah dia ketika masih SMA pergi ke Club atau Diskotik?
Mungkin dia akan menjawab, saya pernah! dan saya bangga sekali! Tidak harus berumur lebih dari 20 tahun untuk bisa masuk kesana…

Dibanding Amerika, ternyata di Indonesia kita akan lumrah melihat sekelompok anak muda minum bir dengan leluasa, silahkan pergi ke pelataran parkir salah satu mini market yang buka 24 jam, maka pemandangan itu akan kita temui disetiap cabang tokonya.

Texas, sebagai salah satu kota di Amerika memiliki peraturan untuk tidak bisa sembarangan minum minuman beralkohol, disini (Indonesia) kita bisa minum minuman beralkohol sambil menyetir sekalipun, itu perkara mudah!

Hanya di Indonesia kita bisa melihat dan membeli majalah yang porno, setengah porno, semi porno, porno rogo (atau apapun sebutannya) yang di covernya ada wanita berbikini dengan headline 7 Gaya Panas di Atas Ranjang? Kupu Kupu Malam Kota Bandung atau Goyang Plus-Plus di Pantura, yang semua itu cukup dengan mengeluarkan kocek beberapa ribu rupiah saja maka anak-anak atau adik-adik kita akan dengan mudah mendapatkannya tanpa harus ditanya Kartu Identitas.
Dan semuanya itu kita dapatkan tanpa harus daftar (subscribe), tinggal kita mampir ke tukang koran depan kantor atau depan sekolahan, maka sajian itu siap kita nikmati…

Apabila kita punya waktu senggang untuk bikin survey kecil-kecilan kepada beberapa orang Indonesia, coba kita buat survey dengan pertanyaan; negara mana di dunia ini yang menurut responden paling dibenci?
Maka mungkin sebagian besar mereka menjawab Amerika…
Kita orang Indonesia sebagian besar memang membenci Amerika, makanya kita memilih dan senang minum Pepsi, Coca Cola, makan di McDonalds, pakai HP Motorola, nonton film-film produksi Hollywood, gaya menggunakan I-Pod, ngobrol sambil menikmati kopi di Starbucks, mengikuti American Idol, dan ikut Test TOEFL…
Yah kita memang sangat membenci Amerika…

Mari kita tanya lagi kepada para ABG tingkat SLTP atau SLTA yang anda temui, pilih ikutan Reality Show atau jadi juara Olimpiade Fisika?
Pastinya sebagian besar akan menjawab untuk ikut Reality Show, bisa jadi tenar! daripada ikutan Olimpiade Fisika, ujung-ujungnya kemungkinan direkrut oleh Singapore atau Jerman, tidak prestise sama sekali…

Tentang pendidikan..
Yang penting terlihat pintar, berlagak sok pintar, bisa bicara sedikit tentang RUU ITE, perkembangan teknologi, karya-karya filsafat seadanya, novel-novel popular, bahasa-bahasa bule, perkembangan politik, meski belum tentu benar analisis kita… maka kita akan dianggap orang terdidik.

Saking berbudaya dan terdidiknyanya masyarakat kita,
Maka infotainment selalu kuat bertengger di puncak rating program televisi (kita kan lebih peduli rating, soal itu tayangan mendidik apa tidak, itu urusan belakang, yang penting aib orang dulu yang perlu kita tahu…
Dan dianggap tidak bagus apabila film-film produksi lokal apabila tidak berisikan aktor tampan atau aktris cantik pendatang baru yang mau beradegan ciuman?!

Kita tidak butuh kenyataan bagaimana kehidupan orang miskin di Indonesia, bagaimana perkembangan populasi satwa langka yang dilindungi, ancaman budaya asing apalagi yang bakal masuk?! ahh itu semua tidak penting, tidak manfaat mikir yang berat-berat, malah bikin sakit kepala saja…

Menurut lembaga statistik, jumlah masyarakat miskin kita mencapai jutaan?!
Halah, itu cuma permainan angka saja, kita negara kaya koq…
Apapun kita bisa impor, dari beras, minyak BBM, pupuk, apapunlah… cuma satu yang kita ekspor keluar, yaitu Tenaga kerja murah dan tahan banting siap dianiaya oleh majikan…

Saking cinta akan budaya bangsa sendiri, maka tidak aneh apabila banyak anak muda kita yang lebih mahir breakdance, modern dance, salsa, samba, tango, menyanyi rap, hip-hop, metal, blues, dan lainnya dibanding produk budaya bangsa kita sendiri.
Dan itu semua, biasanya cuma buat gaya-gaya saja, tidak perlu tahu lebih dalam tentang budaya-budaya yang itu…

Memang sebesar apa Indonesia?
Indonesia itu cuma pulau Jawa saja, sisanya negara tetangga, presiden Jawa, menteri Jawa, pejabat militer Jawa, kesimpulannya yang bukan orang Indonesia tidak dapat menjadi presiden..
Ada yang bilang, yang sederhana itu adalah yang cerdas, maka cukup di Jakarta saja yang dijadikan pusat ekonomi, pusat bisnis, pusat pemerintahan, pusat industri, pusat belanja, pusat hiburan, pokoknya semua pusat ada disini…
Sampai kalau perlu kita buat Taman Mini Indonesia saja dulu buat Indonesia, capek mikirin Indonesia yang luas, mending yang mini-mini saja dulu ..

Makanya saya Bangga jadi orang Indonesia…

(diolah dari berbagai sumber)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.