(Otokritik) 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Telah dituliskan: 09/05/2008 Filed under: Umum | Tags: Kebangkitan Nasional, Otokritik, Pancasila 1 Comment »100 tahun kebangkitan nasional?
Bukan bermaksud meremehkan, tapi mungkin kalimat itu hanya bakal jadi sekedar jargon semata yang menghabiskan banyak anggaran kampanye pemerintah…
Bagi masyarakat negeri ini, kalimat itu tidak seampuh tagline dalam iklan-iklan penyedia layanan selular atau judul-judul sinetron setiap malam.
Apa yang terjadi setelah 100 tahun ini? Apabila anda berpikir bahwa negara ini tidak ada apa-apanya dibanding Amerika, maka anda salah besar! 100 tahun kebangkitan dan 63 tahun kemerdekaan RI ternyata Indonesia jauh lebih “demokrasi” dan lebih “kaya” dari Amerika sendiri. Apa buktinya?
Silahkan anda ajukan pertanyaan ke salah satu remaja ABG di salah satu pusat perbelanjaan tingkat atas pernahkah dia ketika masih SMA pergi ke Club atau Diskotik?
Mungkin dia akan menjawab, saya pernah! dan saya bangga sekali! Tidak harus berumur lebih dari 20 tahun untuk bisa masuk kesana…
Dibanding Amerika, ternyata di Indonesia kita akan lumrah melihat sekelompok anak muda minum bir dengan leluasa, silahkan pergi ke pelataran parkir salah satu mini market yang buka 24 jam, maka pemandangan itu akan kita temui disetiap cabang tokonya.
Texas, sebagai salah satu kota di Amerika memiliki peraturan untuk tidak bisa sembarangan minum minuman beralkohol, disini (Indonesia) kita bisa minum minuman beralkohol sambil menyetir sekalipun, itu perkara mudah!
Hanya di Indonesia kita bisa melihat dan membeli majalah yang porno, setengah porno, semi porno, porno rogo (atau apapun sebutannya) yang di covernya ada wanita berbikini dengan headline 7 Gaya Panas di Atas Ranjang? Kupu Kupu Malam Kota Bandung atau Goyang Plus-Plus di Pantura, yang semua itu cukup dengan mengeluarkan kocek beberapa ribu rupiah saja maka anak-anak atau adik-adik kita akan dengan mudah mendapatkannya tanpa harus ditanya Kartu Identitas.
Dan semuanya itu kita dapatkan tanpa harus daftar (subscribe), tinggal kita mampir ke tukang koran depan kantor atau depan sekolahan, maka sajian itu siap kita nikmati…
Apabila kita punya waktu senggang untuk bikin survey kecil-kecilan kepada beberapa orang Indonesia, coba kita buat survey dengan pertanyaan; negara mana di dunia ini yang menurut responden paling dibenci?
Maka mungkin sebagian besar mereka menjawab Amerika…
Kita orang Indonesia sebagian besar memang membenci Amerika, makanya kita memilih dan senang minum Pepsi, Coca Cola, makan di McDonalds, pakai HP Motorola, nonton film-film produksi Hollywood, gaya menggunakan I-Pod, ngobrol sambil menikmati kopi di Starbucks, mengikuti American Idol, dan ikut Test TOEFL…
Yah kita memang sangat membenci Amerika…
Mari kita tanya lagi kepada para ABG tingkat SLTP atau SLTA yang anda temui, pilih ikutan Reality Show atau jadi juara Olimpiade Fisika?
Pastinya sebagian besar akan menjawab untuk ikut Reality Show, bisa jadi tenar! daripada ikutan Olimpiade Fisika, ujung-ujungnya kemungkinan direkrut oleh Singapore atau Jerman, tidak prestise sama sekali…
Tentang pendidikan..
Yang penting terlihat pintar, berlagak sok pintar, bisa bicara sedikit tentang RUU ITE, perkembangan teknologi, karya-karya filsafat seadanya, novel-novel popular, bahasa-bahasa bule, perkembangan politik, meski belum tentu benar analisis kita… maka kita akan dianggap orang terdidik.
Saking berbudaya dan terdidiknyanya masyarakat kita,
Maka infotainment selalu kuat bertengger di puncak rating program televisi (kita kan lebih peduli rating, soal itu tayangan mendidik apa tidak, itu urusan belakang, yang penting aib orang dulu yang perlu kita tahu…
Dan dianggap tidak bagus apabila film-film produksi lokal apabila tidak berisikan aktor tampan atau aktris cantik pendatang baru yang mau beradegan ciuman?!
Kita tidak butuh kenyataan bagaimana kehidupan orang miskin di Indonesia, bagaimana perkembangan populasi satwa langka yang dilindungi, ancaman budaya asing apalagi yang bakal masuk?! ahh itu semua tidak penting, tidak manfaat mikir yang berat-berat, malah bikin sakit kepala saja…
Menurut lembaga statistik, jumlah masyarakat miskin kita mencapai jutaan?!
Halah, itu cuma permainan angka saja, kita negara kaya koq…
Apapun kita bisa impor, dari beras, minyak BBM, pupuk, apapunlah… cuma satu yang kita ekspor keluar, yaitu Tenaga kerja murah dan tahan banting siap dianiaya oleh majikan…
Saking cinta akan budaya bangsa sendiri, maka tidak aneh apabila banyak anak muda kita yang lebih mahir breakdance, modern dance, salsa, samba, tango, menyanyi rap, hip-hop, metal, blues, dan lainnya dibanding produk budaya bangsa kita sendiri.
Dan itu semua, biasanya cuma buat gaya-gaya saja, tidak perlu tahu lebih dalam tentang budaya-budaya yang itu…
Memang sebesar apa Indonesia?
Indonesia itu cuma pulau Jawa saja, sisanya negara tetangga, presiden Jawa, menteri Jawa, pejabat militer Jawa, kesimpulannya yang bukan orang Indonesia tidak dapat menjadi presiden..
Ada yang bilang, yang sederhana itu adalah yang cerdas, maka cukup di Jakarta saja yang dijadikan pusat ekonomi, pusat bisnis, pusat pemerintahan, pusat industri, pusat belanja, pusat hiburan, pokoknya semua pusat ada disini…
Sampai kalau perlu kita buat Taman Mini Indonesia saja dulu buat Indonesia, capek mikirin Indonesia yang luas, mending yang mini-mini saja dulu ..
Makanya saya Bangga jadi orang Indonesia…

hauhauhau…
sama-sama gerah kita rupanya, bung suro