Tolkien, Marx dan Mitos
Telah dituliskan: 27/01/2009 Filed under: Umum | Tags: Komunisme, Marx, Mitos, Tolkien Leave a comment »Siapa yang tidak mengetahui The Hobbit, The Lord of the Rings, dan The Silmarillion karya apik John Ronald Reuel Tolkien, penulis kelahiran Bloemfontein, Afrika Selatan, 3 Januari 1892 ini?
Mungkin dirasa telat (bagi beberapa orang) untuk tema ini diulas,
Sesungguhnya ini hanya tulisan iseng hasil dari kilasan ide produk diskusi dengan seorang teman yang banyak tahu tentang Tolkien tempo hari lalu…
Lanjut…
Berawal dari buku yang ditulis pada 1930an dan diterbitkan pada tahun 1977 (empat tahun setelah Tolkien meninggal), dalam karya tersebut, diceritakan adanya sebuah makhluk yang bernama Hobbit.
Hobbit, pencerita sekaligus pemeran utama dalam The Hobbit maupun The Lord of the Rings, dideskripsikan sebagai keturunan manusia, (tidak dijelaskan bagaimana hubungan secara geneologis antara manusia dan hobbit) yang diciptakan oleh Iluvatar (Tuhan).
Mereka tinggal di sebuah wilayah yang jauh dari kekacauan politik dan pertarungan kekuasaan bangsa lain.
Sekilas penggambaran tersebut mirip seperti apa yang pernah seorang Karl Marx (tidak harus panjang lebar menjelaskan tentang bapak yang satu ini, hampir semua mahasiswa, sarjana ataupun aktivis ideologis pasti mengenal filsuf ini) cetuskan tentang nasib akhir dari dialektika masyarakat, sebuah manifestasi dari ideologi komunisme yaitu sebuah Diktator Proletariat.
Apabila para Hobbit adalah para komunis, lalu dimanakah posisi materialisme sebagai fundamen komunisme?
materialisme para Hobbit digambarkan dengan nilai/norma masyarakatnya yang hanya menerima kenyataan saat ini saja, mereka menganggap petualangan/keluar dari komunitas seperti yang dilakukan oleh Bilbao dan Frodo Baggins beserta empat temannya adalah perbuatan yang menyimpang.
Para Hobbit tidak pernah memberikan tempat untuk mimpi dan imajinasi, mereka sangat materealistik.
Diceritakan pula, mayoritas profesi para Hobbit ini adalah bertani,
Mungkin berbeda dengan konsep masyarakat komunisme Marxian yang muncul dari masyarakat industri, tetapi sejurus dengan komunisme Mao Tse Tung yang berpijak dari masyarakat agraris.
Lalu konsep Diktator Proletar muncul dari deskripsi tatanan sosial para Hobbit yang tidak mengenal kelas dan struktur sosial dalam masyarakatnya, semuanya rata para pekerja agraris, tidak ada raja ataupun pengusaha dalam tatanan sosial masyarakat Hobbit.
Sedikit meluas, dalam untaian cerita Tolkien, kehidupan masyarakat yang tergambarkan (tidak hanya Hobbit) sangat mengelu-elukan kearifan lokal dengan agraris sebagai pondasi keberlangsungan kehidupan.
Para makhluk protagonis sangat menjauhi bahkan cenderung membenci industrialisasi dengan dasar kapitalistik yang dilakukan oleh musuhnya dengan kegiatan membabat dan membakar hutan serta mengeruk bumi.
Hal ini sejalan dengan tipikal aktivis komunisme (yang tersisa) saat ini, mereka sangat alergi dengan yang namanya kapitalistik dan perusakan hutan.
Bahkan ada yang menyebutkan, bahwa eksistensi kaum komunisme saat ini dapat ditemukan di para aktivis feminisme, aktivis sastra dan budaya serta aktivis lingkungan hidup.
Dalam sejarah umat manusia, tidak pernah ada manifestasi yang berjalan stabil dari hipotesis komunisme, berabad-abad para penyusun negara berhaluan kiri berupaya menciptakan masyarakat utopia ini,
tetapi kenyataan berkata lain, justru komunisme makin jatuh terbenam dalam pertarungan ideologi umat manusia.
Begitu pula dengan para Hobbit yang tersisa, akhirnya mereka harus eksodus dari middle-earth karena desanya telah diporak porandakan.
Jadi, satu kesamaan akhir antara cerita JRR Tolkien dengan pemikiran Karl Marx, keduanya adalah MITOS,
Tetapi “Mitos bukanlah kebohongan.” ujar Tolkien dalam sebuah kesempatan wawancara ketika masih hidup.
Ayo Mulai Lagi…
Telah dituliskan: 24/01/2009 Filed under: Kehidupan | Tags: Ayo mulai lagi 1 Comment »Rumah sederhana ini ditinggalkan oleh pemiliknya. Sunyi, pengap, tanpa kehidupan!? Sudah hampir satu tahun …
Ratusan bahkan ribuan peristiwa serta opini menguap bebas dan hilang di atmosfir keseharian. Sudah hampir satu tahun …
Alunan perjalanan keseharian memaksa mengambil posisi tanpa serangan untuk kembali merekam dan menulis. Sudah hampir setahun…
Sulit memulai merekam kesemuanya dalam bingkai kata yang tersimpan dan tersusun di rumah sederhana ini. Sudah hampir setahun…
Memulai langkah tidak butuh banyak bicara, cukup beberapa patah kata untuk kembali…
Ayo mulai lagi…