Elegi Jagat Raya (3)

Bagian ke 3 : Keseimbangan

Maaf… apabila ada kalanya kalian menderita karenaku, sejujurnya… itu bukan kehendakku, itu adalah titah Raja di Raja kita, itu ketetapan dari Sang Pencipta…
Aku tak pernah berniat menghancurkan Sodom dan Gomorah, aku tak pernah berpikir untuk meratakan Pompei dan aku pun tak pernah bermaksud memberikan kaum Nuh banjir yang luar biasa besar, aku sedih dengan tsunami yang datang tanpa pesan…

Sekali lagi, itu adalah perintah dari sang Maha Akbar… aku tak kuasa untuk menolaknya karena kita memang diciptakan untuk menuruti segala perintahNya bukan?

Tetapi jangan pernah untuk mempersalahkanNya…
Karena kita tidak pernah tahu apa-apa yang sudah ditetapkanNya…

Aku tidak mempersalahkan kalian atas semua ini, karena tidak semua anggota kalian yang tamak dan kasar terhadapku…
walaupun lebih banyak dari kalian yang lupa kepadaku..

Aku tidak meminta banyak kepada kalian, karena memang sesungguhnya aku yang harus memberikan banyak kepada kalian…

Aku hanya memohon kepada kalian agar tidak menebang batang pohon tanpa tedeng aling-aling untuk keperluan yang tidak semestinya, sisakan sedikit bagianku, agar aku mampu memberikan anak cucu kalian air yang sehat…
Aku hanya memohon kepada kalian agar tidak menggunakan bahan-bahan sintetis yang sulit diurai yang dapat merusak wajah bumiku…
Aku hanya memohon kepada kalian untuk tidak membabi buta mengeruk isi perutku demi sejumlah minyak bumi, batu bara, dan permata lainnya…

Jangan bilang semua itu kalian lakukan atas nama kebutuhan energi yang kalian sendiri pun tidak tahu sebesar apa?

Kalian masih dapat hidup sejahtera tanpa itu…

Aku yakin dengan kecerdasan yang kalian miliki sebagai makhluk yang nyaris sempurna, kalian mampu mencari jalan alternatif yang dapat menggantikan ketergantungan kalian terhadap itu semua…
Aku masih mampu memberikan kalian sinar matahari tanpa batas yang dapat kalian manfaatkan menjadi tenaga…
Aku masih mampu memberikan kalian milyaran galon air laut yang bisa kalian rubah menjadi gerak…
Aku masih mampu memberikan kalian angin yang bersahabat yang dapat kalian sulap menjadi daya…

Untuk semuanya…
Aku tidak juga marah,
karena aku tidak tega melihat kalian menderita apabila banyak gunung meluapkan isi perutnya…
Aku tidak juga menangis,
karena hujan, banjir dan longsor sudah cukup banyak merenggut nyawa dari kalian berabad-abad ini…
Aku tidak juga sedang menghardik kasar kepada kalian,
karena angin topan dan tsunami hanya akan membawa kalian kesengsaraan…

Aku mendambakan tentang Keseimbangan…
Berikan aku keseimbangan yang dahulu ada demi masa depan kalian…
Aku tidak mengajarkan kalian menjadi pagan dengan permohonan ini, aku hanya menyarankan agar kalian lebih menjagaku dan bersukur atas apa yang Sang Pencipta kita berikan…

Untuk itu aku bersenandung…
Sebuah senandung yang bukan sorak bergembira… sebuah senandung elegi jagat raya…

Dan jangan kasihani diriku atas ini bagaikan seorang janda tua kesepian, tetapi ingatlah ini demi anak cucu kalian esok…

bagian terakhir dari tiga bagian tulisan
selesai


Elegi Jagat Raya (2)

Bagian ke 2 : Air mata itu

Saat itu hidup kita berjalan sangat sempurna…
hmm… tetapi itu semua ternyata sangatlah singkat… bulan madu memang tidak untuk selamanya…

Beberapa ribu tahun kemudian setelah kalian hampir mencapai titik terakhir kebudayaan kalian yang sangat kalian elu-elukan, aku merasa kita semakin renggang…

Aku masih ingat kapan pertama kalinya hal itu dimulai…
Saat itu dimulai ketika kalian menemukan sesuatu yang menurut kalian adalah sebuah loncatan agung bagi kehidupan kalian… yaitu Revolusi Industri…
Saat itu aku juga memandang hal yang sama seperti yang kalian pikir dan bayangkan… aku membayangkan sebuah masa depan yang hijau, hari esok dengan langit biru, langkah baru tanpa wajah bumi yang cacat…

Tetapi harapan, hanya tinggal harapan… kenyataan terlalu kejam dan pedih untuk kuterima, dan mungkin juga oleh sebagian dari kalian…
Tidak ada lagi kicau nyanyian burung menyambut senja hangat dari balik hijaunya rimbun pohon rindang…
Tidak ada lagi irama gemericik sungai yang mengalir di sela-sela hutan dengan milyaran satwa…
Tidak ada lagi orkestra debur ombak yang mengantarkan jutaan mimpi dari seberang…

Semua itu berganti wajah menjadi ketamakan, eksploitasi, eksplorasi, dan kehancuran lain yang aku tidak sanggup mengatakannya…
Hutanku kalian babat dan kalian bakar, demi selembar kertas surat keperluan kantor dalam gerakan industrialisasi yang kalian ciptakan…
Bukitku kalian ratakan, hanya untuk sekavling pabrik teknologi tinggi yang merenggut setiap lapisan ozon yang tersisa…
Sungaiku kalian cemari, hanya untuk sebuah kantong plastik pembungkus nafsu kesombongan kalian…
Tanahku kalian lubangi hingga tak berujung, demi setetes minyak dan seonggok batu bara dan permata yang sangat kalian bangga-banggakan sampai mulut kalian berbusa…

Aku tidak mengeluh dan mengiba kepada kalian… aku hanya mengingatkan masa-masa kita yang harusnya lebih indah dibanding masa lalu…
Jangan ada lagi chernobyl, jangan ada lagi darah demi setetes minyak, dan jangan ada lagi air mata kalian yang menetes ke tanahku yang tidak hijau lagi…

bagian kedua dari tiga bagian tulisan
bersambung >>>


Elegi Jagat Raya (1)

(Bagian 1 : Pada Awalnya…)


Tahun ini hanyalah salah satu tahun dari sebuah milenium yang aku tidak tahu kapan akan berakhir?
Aku sudah lupa pada tahun atau milenium ke berapa aku diciptakan olehNya?
Hanya Al Malik lah yang mengetahuinya…
Banyak sudah rekaman peristiwa yang pernah aku saksikan, bahkan jauh sebelum kalian para manusia tercipta…

Dari kekosongan aku berawal…
setelah itu seperti gerimis turun, satu persatu makhluk pun tercipta…
Ketika aku hadir, tugasku sangatlah sederhana, aku hanya diperintah olehNya untuk berzikir mengagungkan namaNya untuk mensyukuri seluruh rahmat penciptaan yang telah diberikanNya…

Kalian para manusia takkan pernah tahu kejadian itu, karena waktu kalian belum tiba, kalian belumlah hadir untuk melihat segala sesuatunya dimulai…

Aku masih muda ketika jaman pertama dimulai, masa dimana Tuhanku menciptakan para makhluk sebelum kalian…
Mereka adalah para pendahulu kalian yang diberikan kesempatan olehNya untuk tinggal bersamaku, berjalan di dekatku, hidup beriringan denganku di jaman itu…

Tidak lama jaman itu berlangsung…
Maha Besar Tuhanku dengan seluruh pengetahuanNya…
Hingga pada suatu saat ternyata mereka, para pendahulu kalian itu lalai, mereka membuat kerusakan atas diriku dan Sang Maha Tinggi pun mengambil kembali hak mereka atas diriku…
Aku hanya bisa diam menyaksikannya…
Aku memang tanpa daya untuk itu, karena sesungguhnya kita semua sangatlah tidak berdaya di hadapanNya, apalagi untuk melawan ketetapaNnya…

Waktu pun kembali berjalan, dan atas kehendakNya dan kemurahanNya lagi kalian pun lahir dengan wujud yang nyaris sempurna…
Ketika kalian pertama kalinya lahir, para malaikat bertanya kepadaNya, kenapa kalian diciptakan? kenapa Dia yang Maha Tinggi menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan atas diriku?
Saat itu aku pun terheran bercampur takut dengan pertanyaan para malaikat kepadaNya…
Hanya satu yang ada dalam benakku, apakah benar makhluk baru lahir yang nyaris sempurna ini akan membuat kerusakan atas diriku?

Tetapi diriNya pun menjawab bahwa sesungguhnya kalian tidak tahu apa-apa yang Dia tetapkan…
Lega aku mendengarnya…
Keyakinanku bertambah, aku sangatlah yakin bahwa diriNya sangat mengetahui segala yang Dia lakukan, karena memang sesungguhnya Dia lah yang Maha Mengetahui segala sesuatunya…

Aku sangat senang ketika mengetahui bahwa kalian diciptakan sebagai khalifah untuk menemaniku menyaksikan semua keagunganNya semata hanya untuk menyembahNya…
Dengan segala hormat aku tertunduk mengabdi kepada perintahNya dan dengan segenap hati aku senang melayani kalian yang ditunjuk olehNya…

Aku memberikan diriku sepenuhnya untuk kalian huni, untuk kalian manfaatkan demi kelangsungan setiap umur dari generasi kalian saat itu dan kelak…
Aku hijaukan tumbuhan dan pelihara hewan-hewan untuk kalian makan… karena aku tak pernah tega melihat anak-anak kalian kelaparan…
Aku hamparkan daratan untuk kalian tinggal… karena kalian butuh menetap…
Aku alirkan sungai untuk kalian pergunakan membangun kerajaan dan peradaban… karena aku tahu kalian memiliki daya cipta yang luhur…
Aku ijinkan laut untuk kalian arungi… karena aku mengerti bahwa kalian sangatlah haus akan pengetahuan…
Aku muntahkan isi perutku… semata hanya untuk membantu kalian membuat benda-benda bernilai tinggi demi menyempurnakan budaya kalian…
Aku turunkan salju dan hujan dari langit… hanya untuk menyuburkan ladang-ladang kalian…

Waktu berjalan…
Saat itu kalian masih sangat muda ketika kita saling menjaga satu sama lain, kalian mengambil segala pemberianku dan kalian berikan aku kelestarian, kalian menghormatiku seperti aku menghormati kalian…
Bagaikan sepasang kekasih kita berdampingan…

Hingga pada waktunya tiba…

bagian pertama dari tiga bagian tulisan
bersambung >>>


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.