Kebanggaan Istana Gebang
Telah dituliskan: 30/04/2008 Filed under: Sejarah | Tags: Aset Negara, Istana Gebang, Sejarah Leave a comment »Kemarin beberapa media menayangkan sebuah berita tentang rencana penjualan rumah bekas tinggal masa kecil presiden pertama RI (Bung Karno) di Blitar. Resah bercampur heran mendengarnya, koq bisa sebuah situs sejarah bangsa ingin dijual oleh ahli waris?
Rumah yang menjadi museum bung Karno yang berada di Jalan Sultan Agung Kota Blitar itu saat ini menjadi milik keluarga Ny Soekarmini Wardoyo (kakak kandung Bung Karno) tentu banyak memberikan pengaruh bagi seorang Soekarno, terlebih apabila asumsi itu beranjak dari teori Psikoanalisis dari Freud tentang pengaruh masa kanak-kanak seseorang yang mampu membentuk dirinya saat besar kelak…
dan jelas terlihat, bahwa diri seorang Soekarno terbukti mampu membentuk Indonesia pada jamannya…
Ada apa dengan negeri ini? Ironi, Bung Karno dahulu kala pernah berkata untuk jangan sekali-sekali melupakan sejarah (jas merah) tetapi malah warisan sejarahnya sendiri akan dijual oleh ahli warisnya?!
Dari berbagai sumber, motif penjualan museum dengan luas tanah 8000 m2 atau sekitar 1,4 hektar dan luas bangunannya 2000 m2 dengan satu rumah besar serta enam rumah kecil itu adalah untuk mencegah konflik keluarga terhadap warisan tersebut. Kembali heran mendengarnya…
Bukan maksud berprasangka buruk, tetapi logika awam saya sekilas bertanya kenapa masih harus menyertakan motif penguasaan pribadi yang melambangkan ketamakan terhadap sebuah aset negara yang seharusnya milik segenap bangsa ini?
Para keluarga sang proklamator seharusnya sudah cukup dapat berbangga hati atas warisan darah seorang Soekarno…
sebuah kesempatan yang jelas tidak dimiliki oleh keluarga lain?!
Dan juga masih dari berbagai sumber, salah satu motif lain dari keinginan keluarga untuk menjual cagar budaya yang akrab dikenal sebagai Istana Gebang itu adalah ketidak mampuan pihak keluarga dalam biaya perawatan serta pemeliharaannya yang memakan sekitar tiga juta rupiah per bulannya, sedangkan tidak semua dari keluarga yang tergolong mampu untuk memeliharanya, dan mereka pun juga sudah mengusahakan untuk meminta pihak-pihak yang terkait dan berwenang (serta mampu tentunya) untuk membantu dalam usaha pemeliharaan cagar sejarah tersebut tetapi tidak ada tanggapan dari permohonan tersebut.
Kembali tidak dengan maksud berprasangka buruk, pertanyaan kembali hinggap, dimana peran negara dalam usaha pengamanan dan pemeliharaan aset bangsa ini? apakah negara sudah kehilangan fokus atau memang sudah kehilangan kemampuan untuk menjaga kebanggan bangsa ini?
Sudahlah…
akhirnya tetap solusi dibutuhkan…
Harapan masih ada, jalan keluar masih tersedia…
Daripada saya harus terus-terusan terkesan berprasangka buruk?!
Demi memfasilitasi keinginan pihak keluarga & juga mengoptimalkan peran perawatan serta pemeliharaan aset negara oleh negara, mungkin akan lebih baik apabila cagar tersebut dilalihkan kepada negara.
Semoga RI dapat memaksimalkan undang undang No 5/1992 tentang Cagar Budaya, yang menyebutkan dalam pasal 7 ayat 1, pengalihan pemilikan atas benda cagar budaya tertentu yang dimiliki oleh warga negara Indonesia secara turun-temurun atau karena pewarisan hanya dapat dilakukan kepada negara.
Apabila memang harus dijual, negara juga harus menjadi pihak pertama yang mendapat kesempatan untuk mengganti rugi atas pemindahan kepemilikan.
Dan nilai 50 miliar itu tampaknya sebuah harga yang kecil bagi sebuah warisan besar…
Ken Arok : Sang Jenderal Fenomenal Republik Singosari
Telah dituliskan: 17/01/2008 Filed under: Sejarah | Tags: Kematian, Ken Arok, Sejarah, Singosari 3 Comments »
Ada tetapi Tiada…
8 Juni 2021 lampau ia lahir di salah satu distrik bagian Yogyakarta, dia bukan apa-apa…
Ia belum menjadi siapa? hanya seorang yang pendiam dan lugu, anak petani tamatan Sekolah Menengah biasa…
Masa lalunya yang tidak secerah ketika dia berkuasa melahirkan banyak spekulasi… spekulasi penuh pertanyaan yang hanya berani muncul setelah 2098…
Tepat pada 1 Juni 2040 ia memasuki Sparta, masa mudanya dihabiskan dengan berkarir di sasana keprajuritan ini, banyak guru yang ditemui dan banyak ilmu yang diperoleh…
Cakra mulai terbuka, aura panglima sedikit demi sedikit tersingkap…
Langkah kedua dilakukan, anak petani yang saat itu menjadi perwira, mempersunting seorang Dedes, putri berdarah biru penuh wibawa…
Dari Tiada menjadi Ada…
Awal 2060… sebuah peristiwa menentukan muncul, muncul pemberontakan di Singosari… seorang martir bernama empu Gandring tewas oleh keris karyanya yang belum rampung…
Ada skenario bermain… bahkan tidak hanya sang empu yang menjadi korban, masih ada 7 panglima lain yang dibunuh…
Sebuah jaman berdarah, Sebuah kudeta untuk presiden Jayakatwang dari Tumapel…
Kebo Ijo tertimpa sial, dia dijadikan kambing hitam… benarkah dia pelakunya?
Sampai sekarang pun rakyat Singosari tak pernah tahu kebenarannya…
Saat itu KenArok menjadi pahlawan, koalisi sempurna antara para panglima, brahmana dan para cendikia, sebuah pergerakan yang sukses…
Kekuasaan baru pun dimulai, Singosari memasuki babakan baru… Orde baru…
Lama sudah ia berkuasa, emas dan beras banyak terkumpul…
Puncak keemasan Jenderal Ken Arok mencengkeram republik Singosari…
Ratu digdaya ora tedas tapak palu ne pandhe sisane gurindha…
Tetapi tetap ada ujungnya…
Titik nadir berubah menjadi akhir…
2098 saatnya, jaman dimana para sarjana, brahmana, begawan dan jelata membuat barisan menggugat kekuasaan Jenderal Arok yang dinilai makin tak terbatas…
Sang Jenderal yang cemerlang sebenarnya sadar…
Tetapi waktu sudah terlambat, para punggawa lari pontang-panting, meninggalkan sang Jenderal di medan perang, matahari sudah tenggelam, Singosari harus terlepas…
Dari Ada kembali Tiada…
2108, di tempat itu, Sang Jenderal tergeletak lemah tak berdaya, belasan hari ditopang dengan mesin yang hanya mampu mengulur datangnya ajal, dia terbujur sepi dan sendiri…
Jutaan pasang mata berharap menanti apa yang akan terjadi kemudian… Detik-detik menunggu jawaban, jawaban yang berarti tidak hanya bagi dirinya, keluarga, karib, sanak saudara, mantan punggawa, tetapi terlebih lagi untuk Singosari…
Beberapa rasionalis berdoa untuk dia kembali sehat,
agar tetap melaksanakan tugasnya, sebagai terdakwa demi supremasi hukum…
Demi bangsa ini… seru mereka lantang…
Beberapa moralis berdoa untuk para rasionalis agar memaafkan sang Jenderal biar ia dapat pulang dengan tenang,
atas nama moral apabila jalan hukum sudah sulit ditempuh karena kondisi…
Demi kemanusiaan… ujar mereka mengingatkan…
Sebagian lainnya hanya menanti apa yang akan terjadi,
tanpa aksi apapun, atau mereka memang tidak mampu beraksi apapun?
Sebagian lainnya justru malah tidak mengerti apa yang terjadi?
malah mereka bertanya apakah mungkin ada kaitan antara detik-detik sang Jenderal yang tak kunjung pulang dengan naiknya harga kedelai di pasaran?
Segelintir pencari berita, berharap menanti menangkap momen…
Sebagian dari mereka menggerutu karena sudah tidak pulang 3 hari…
Ken Arok, sang Jenderal fenomenal…
Sampai menjelang usai pun tetap fenomenal…
Gajahmada, Indonesia Dan Malaysia
Telah dituliskan: 26/12/2007 Filed under: Sejarah | Tags: Gajahmada, Pengamanan, Sejarah 1 Comment »“Sungguh hebat Tetralogi Gajahmada karangan Langit Kresna Hariadi ini, sebuah bacaan yang dibuat berdasarkan ramuan hasil riset sejarah yang kuat dan imajinasi yang eksotis”
Mungkin itu salah satu quote dari koran atau majalah yang me-review fiksi historis romantik yang dikarang oleh mbah Langit Kresna Hariadi ini…
(hehehe.. saya sebut beliau mbah, karena secara umur saya yang memang terpaut jauh dengannya dan saya jadi ingat bahwa mbah saya dulu juga sering bercerita ataupunmendongeng tentang cerita-cerita jaman lampau sebagai pengiring tidur di waktu saya kecilhingga saya bermimpi untuk menjadi salah satu tokoh sejarah yang diceritakan oleh mbah sayadan terbangun di pagi harinya dengan sebuah kebanggaan tokoh yang diceritakan untuk hari itusaja, karena esok hari tokohnya pun berganti…)
Kali ini bukan tentang kualitas tulisan atau semenarik apa isi dari fiksi tetralogi Gajahmada yang membuat saya tergelitik untuk menulisnya di pojok ini…
Saya juga bukan pengamat ataupun kritikus sastra… dan saya sendiri pun sebenarnya belum tuntas membaca keempat novel tersebut, baru dua buku saja yang selesai saya baca dan itu juga tidak saya baca secara berurutan sesuai dengan urutan buku…
yah… selain saya hanya meminjam dari seorang teman, ditambah dengan alasan klise tidak ada waktu yang cukup luang untuk saya membacanya hingga tuntas, dan yang paling mendasar sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan genre novel hitoris romantik seperti itu…
(omong-omong… penulisan Gajahmada itu dipisah (Gajah mada) atau disambung (Gajahmada) yah? sudahlah nanti saja kita bahas… saat ini biarkan saya menulisnya dengan disambung…)
Diawali dari hasil diskusi saya dengan seorang teman tentang polemik kontroversi Indonesia-Malaysia yang “memanas” beberapa bulan lalu, dipicu oleh kasus pemukulan seorang pelatih karate di Malaysia hingga ke kasus “pencurian” budaya…
Saya menggunakan tanda kutip untuk kata “pencurian” karena saya sendiri pun masih tidakyakin, sebenarnya ini murni kasus “pengklaiman” atau hanya sebuah sensasi belaka? atau mungkin bagi Malaysia ini hanya sekedar uji coba rudal lintas negara yang syukur kalauberfungsi baik… kalau tidak pun tidak masalah…
(saya mungkin terlalu banyak asupan informasi-informasi tentang konspirasi, hehehe…)
“Mungkin beberapa orang akan bilang saya telat untuk membahas hal ini di blog atau media lain? tetapi saya pikir fenomena ini bukan hanya sebatas siapa yang “mencuri”, dan apa yang “dicuri”? dan bukan juga bermaksud menghidupkan lagi “api dalam semak” dimasa perjanjian “gencatan senjata” antara RI dan Malaysia saat ini…
(saat ini? yup saat ini, saya pikir dikemudian hari nanti akan muncul lagi kasus ini…)
Intinya adalah bagaimana supaya hal itu tidak terulang lagi bukan?
Implikasi dari kasus ini juga ternyata cukup panjang…
contohnya; para seniman reog yang takut untuk berkreasi karena takut karyanya dicuri, himbauan salah seorang wakil rakyat untuk memboikot semua produk Malaysia di Indonesia, meramainya stereotype (Malingsia dan Indon), semaraknya caci maki tidak bertanggung jawaboleh kedua belah pihak diberbagai media, sampai dengan coretan curhatan kecil di dinding bekaskampus saya yang bertuliskan;
“Malingsia sialan, Assrof sialan, sudah kau curi Reogku,
kau curi juga Bunga Citra Lestariku”
(hehehe… untuk hal ini saya terpaksa sepakat dengan coretan itu…)
Sebelum lebih panjang, entahlah orang lain akan berpikir apa tentang saya? kalian boleh sebut saya tidak nasionalis? pesimis, atau is-is lainnya… terserahlah?
dan dengan tidak juga mencoba untuk menjadi seorang nabi yang mengajak umatnya untuk ikhlas serta berintrospeksi…
(di Indonesia saat ini sedang sensitif masalah tentang nabi palsu atau aliran baru.. dan saya tidak mau masuk televisi atau koran dengan gambar sedang dirajam oleh masyarakat, hehehe…)
tetapi logika sederhana saya mengatakan bahwa kasus “pencurian” itu semua berawal dari kita..
yup KITA, ORANG INDONESIA… kita sendiri…
Kenapa kita?
Iya memang kita yang tidak cukup cerdas “memagari” rumah kita sendiri…
kalau kita lihat, bahwa tidak hanya Reog (barongan) ataupun lagu Rasa Sayange saja yang akan “dilahap” oleh tetangga kita, banyak sekali hal-hal lain yang (disayangkan) terpaksa pindah kepemilikan tanpa aturan ijab kabul yang sepadan dari kita ke Malaysia…
(lagipula memangnya siapa yang hendak menjual budaya?)
17 desember 2002 silam kita telah gigit jari kehilangan Pulau Sipadan & Ligitan ke Malaysia? lalu Berapa banyak atlit berprestasi Indonesia yang pindah arena kompetisi ke negeri seberang? Berapa banyak kasus kekerasan TKI di negeri jiran itu?
(ini juga saya pikir salah satu kasus “pencurian”, bahkan sebuah pencurian terbesar, yaitu pencurian hak asasi, tidak ada hukum rasional dimanapun yang melegalkan orang untuk bebas hajar menghajar, kecuali di ring tinju, turnamen beladiri atau di lapangan sepakbola, untuk beberapa orang idiot…),
Berapa banyak orang Indonesia yang mengetahui bahwa arsitek pembuat menara Petronas itu sebenarnya orang Indonesia?
(ini juga kasus “pencurian”, pencurian kekayaan intelektual…mungkin…)
Banyak hipotesis yang keluar untuk semua ini;
Sosiolog bilang; kalau hal itu terjadi karena kita serumpun dengan Malaysia…
budaya yang ada di Malaysia juga berasal dari Indonesia… jadi yang ada di kita juga ada di sana…
(di kita banyak koruptor? di Malaysia banyak juga gak yah?)
Ekonom bilang hal ini berhubungan dengan ketahanan ekonomi Indonesia yang lemah… hingga banyak orang yang “jualan” ke tetangga hingga akhirnya jadi milik mereka?
(hmmm.. masalah perut memang rumit, sudah dari jaman purba masalah fisiologis ini selalu menjadi pemicu..)
Seorang fascis mungkin akan bilang; karena budaya Indonesia itu lebih luhur daripada budaya Malaysia yang rendah…
(hahaha… seorang fascis pun masih “menduplikat” seorang eropa yang bernama hitler…)
Kembali keawal, dengan sederhana,
(saya tidak mau terdengar sok pintar untuk menulis sesuatu dengan gaya yang tidak sederhana, hehehe)
saya pikir banyak cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga khasanah budaya kita untuk tidakdiklaim oleh orang lain?
salah satunya; dengan cara menulis fiksi sejarah seperti yang mbah Langit Kresna Hariadi lakukan…
Bagaimana bisa?
Salah satu metoda dari manajemen yang baik adalah dengan mendokumentasikan data daninformasi sebaik dan selengkap mungkin… terdengar mudah, tetapi nyatanya sulit dilakukan… Saya jadi teringat ucapan salah seorang manajer di salah satu perusahaan klien saya, saat itu dia mengatakan bahwa;
“syarat yang paling sulit demi mendapatkan sertifikasi internasional adalah menyajikan dokumen data & informasi dari apa-apa yang pernah kami lakukan… sedangkan dokumentasi itulah sebagai bukti yang bisa menjamin bahwa kita telah melakukannya… tanpa bukti kita hanya bisa omong doang…”
dan menurut hemat saya, mbah Langit Kresna Hariadi telah melakukannya dengan cantik…
“walaupun fiksi tapi berisi…” ucap salah seorang karib saya…
sedikit saran, apabila para pemerhati, pengelola budaya ataupun seluruh rakyat Indonesia mampu meluangkan sedikit waktu untuk menulis dan banyak berimajinasi…
saya rasa tidak perlu ada demonstrasi lagi, tidak perlu melakukan sweeping, tidak perlu pakai caci maki, tidak usah mencuri arca dari museum…

